Kamis, 22 November 2007

Follow Up MAPABA

SUDAH menjadi sebuah tradisi. Seluruh kader baru PMII Rayon Tarbiyah, STAIN Jember yang telah dibai’at. Dibimbing mengenal PMII lebih jauh di dalam khalaqoh-halakoh kecil.

Beraneka ragam nama yang mereka pakai dalam masing-masing halakoh. Beragam nama itu seakan mencerminkan pemikiran mereka yang berbeda satu sama lainnya.

Setiap Rabo malam, mereka belajar segala hal tentang PMII. Mulai dari ke-PMII-an, ke-Islam-an, keaswajaan, ke-Indonesiaan dan kajian-kajian lainnya. Sedikit pun tidak ada cerminan kebosanan di wajah mereka.

Duduk melingkar dan menyebar ke segala penjuru arah mata angin, kelompok-kelompok belajar ini meramaikan suasana STAIN Jember. Didampingi seniornya dari semester III dan IV, kader baru antusias menerima dan memahami apa dan bagaimana gerakan PMII itu.

Melihat kekompakan di setiap khalaqoh, Munir, Ketua Rayon Tarbiyah, berharap kader tidak berhenti satu persatu, seperti pengalaman yang sudah-sudah.

Wawasan Dasar Filsafat

(29/7/2007) - Filsafat, dapat diartikan sebagai alat berfikir yang mendalam (radik), dengan standar logis, sistematis, realistis, dan obyektif. Semua ini bertujuan untuk mencintai kebijaksanaan, kebenaran dan kesejahteraan.

Namun, kondisi filsafat saat ini masih konterofersi. Salah satunya, pendapat yang saling bersingguhan, seperti kajian filsafat metafisis atau abstraktif yang memepermasalahkan eksisetensi tuhan, akhirat, udara dan lain sebagainya.
Pandangan filsafat tadi menjadi sebuah pendapat yang mencerahkan (tesis). Tetapi kekuatan tesis ini masih dibantah oleh antitesis baru, yaitu golongan atau kajian filsafat logosentris.

Logosentris berpendapat bahwa kajian atau teoeri yang hanya berada pada ide, seperti halnya objek kajian ketuhan, tidak akan menemukan ketuntasan. Semuanya hanya omong kosong atau muspro belaka.

Ditarik ke belakang, sebelum munculnya filsafat di Yunani yang terjadi 600 tahun sebelum masehi, ternyata masyarakat pada umumnya masih terbelenggu dengan mitos. Jika kita bicara mitos, bisa jadi asional dan bisa juga tidak. Tetapi mitos kali ini tidak bisa dikategorikan sebagai kerangka fikir ilmiah.

Oleh karena itu, dengan modal sekeptis, masyarakat prayunani mengawali penggalian filsafat yang murni dengan kendali rasio atau akal. Lalu melahirkan pemikir-pemikir muda filsafat sepreti Tales, Plotinus, Plato Socrates dan Rene Descartes.

Ternyata berkembangnya filsafat dari masa ke masa masih terdapat lika-liku sejarah. Mulai masa keemasan sampai kegelapan, dan kembali pada masa keemasan lagi. Masa keemasan muncul, ketika masyarakat yunani kuno masih bebas-bebasnya menggunakan alat fikir atau rasio murni, dengan segala kekuatannya.

Kesimpulannya, motifasi pembelajaran filsafat yang mengena dengan konsentrasi kita di dunia organisasi pergerakan, yaitu harus memahami dan mempelajari secara intens filsafat kritis yang banyak dimuat dalam buku “kritik ideoloegi”. Tujuannya, supaya semua kader membaca baik yang tidak faham lebih-lebih yang bisa memahaminya, ataupun yang eetidak memahami blas wajib membaca dan membelinya. (ziz)